Suatu ketika ada seorang pengelana.
Pengelana yang fakir harta, namun haus ilmu.
Suatu hari pengelana tersebut melewati desa kecil penuh bunga. Di desa tersebut terdapat seorang putri yang tinggal di megahnya istana.
Cantik, menawan, senyum indah yang merekah di bibirnya, pakaiannya indah, bagai pelangi.
Namun sang pengelana hanya bisa melihat dari bawah, dari jauh. Dia sadar dirinya hanya pengelana miskin yang hanya bisa berangan bisa hidup bersama sang putri.
Namun takdir berkata lain.
Entah bagaimana cara Tuhan, dia dan sang putri akhirnya bersama dalam ikatan suci.
Namun, disini ujian cinta dimulai.
Sang pengelana tetap berkelana mencari ilmu, mengirim kabar melalui burung pembawa berita pada sang putri.
Sang putri kesepian.
Yang dibutuhkan sang putri hanya seseorang yang bisa menjadi sandaran ketika dia bercerita.
Namun sang pujangga hati sedang pergi.
Pergi mencari ilmu.
Berkabar seadanya.
Bodohnya, pengelana tidak pernah menyadari hal itu.
Hingga suatu ketika, suatu waktu.
Ketika kembali dari perjalanannya, dia melihat sang putri berjalan bersama seseorang.
Seseorang yang bisa mendengarkan curhatnya. Seseorang yang selalu ada di sisinya.
Pengelana sedih, hancur tak terbayangkan.
Dia baru bisa menyadari diri bahwa dirinya banyak kekurangan, tidak selalu disisi sang putri, menjadi teman curhat, pendengar yang baik.
.
.
.
.
Bersambung
Pengelana yang fakir harta, namun haus ilmu.
Suatu hari pengelana tersebut melewati desa kecil penuh bunga. Di desa tersebut terdapat seorang putri yang tinggal di megahnya istana.
Cantik, menawan, senyum indah yang merekah di bibirnya, pakaiannya indah, bagai pelangi.
Namun sang pengelana hanya bisa melihat dari bawah, dari jauh. Dia sadar dirinya hanya pengelana miskin yang hanya bisa berangan bisa hidup bersama sang putri.
Namun takdir berkata lain.
Entah bagaimana cara Tuhan, dia dan sang putri akhirnya bersama dalam ikatan suci.
Namun, disini ujian cinta dimulai.
Sang pengelana tetap berkelana mencari ilmu, mengirim kabar melalui burung pembawa berita pada sang putri.
Sang putri kesepian.
Yang dibutuhkan sang putri hanya seseorang yang bisa menjadi sandaran ketika dia bercerita.
Namun sang pujangga hati sedang pergi.
Pergi mencari ilmu.
Berkabar seadanya.
Bodohnya, pengelana tidak pernah menyadari hal itu.
Hingga suatu ketika, suatu waktu.
Ketika kembali dari perjalanannya, dia melihat sang putri berjalan bersama seseorang.
Seseorang yang bisa mendengarkan curhatnya. Seseorang yang selalu ada di sisinya.
Pengelana sedih, hancur tak terbayangkan.
Dia baru bisa menyadari diri bahwa dirinya banyak kekurangan, tidak selalu disisi sang putri, menjadi teman curhat, pendengar yang baik.
.
.
.
.
Bersambung
Komentar
Posting Komentar